marquee
Jumat, 15 Maret 2019
Kamis, 14 Maret 2019
Menggali Potensi-Lomba Baca Puisi Tingkat Sumatera-Padang Panjang
Semoga bisa menjadi diri sendiri.
Mengapa ada orang-orang yang mempunyai energi yang begitu besar untuk meraih sesuatu? Mengapa ada orang yang penuh gairah dalam menghadapi tantangan? Mengapa ada orang yang sangat ingin berprestasi? Terlepas dari apa motivasi seseorang itu meraih prestasi, mereka selalu mempunyai kesamaan, yaitu, mempunyai energi yang melimpah, berani menghadapi tantangan dan ambisi besar untuk diwujudkan.
Bukan tujuan utama mengalahkan,,
Jika ambisi kita berprestasi adalah untuk “mengalahkan orang lain”, kita akan segera kehabisan energi positif dalam belajar. Dorongan yang muncul lebih banyak bersifat negatif yang dapat mengganggu kejernihan pikiran. Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Kenali saja siapa diri kita, dan jadilah diri sendiri.
Belajar terus, dan berusaha mempunyai keahlian khusus. Jangan berhenti belajar, namun tak perlu mempelajari semuanya. Kenali apa kekuatan kita untuk menjadi seorang ahli agar kita mampu menuntaskan pekerjaan dengan hasil yang baik.
Wallahu 'lam
Rabu, 07 November 2018
Sukses itu Butuh Perjuangan dan PENGORBANAN
Zainal Masri (Juara ll Tilawah Dewasa Pa)
Di tengah kesibukan, Alhamdulillah masih sempat memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang banyak pada MTQ yang dilaksanakan di 2 koto (4-7 November 2018)
Dengan usaha dan kerja keras latihan mandiri bersungguh2 dan kontiniu. disamping latihan bersama guru. kemarin memang ada keterbatasan waktu juga untuk maksimal di arena karena jadwalnya harus menyiapkan persiapan untuk Ujian CPNS juga di aula bung hatta, tapi Alhamdulillah bisa meraih terbaik 2. walaupun masih kurang dari target, tetapi memang sangat terasa hikmah dan manfaatnya. Mdh2n bisa menjadi pengalaman berharga dan pelajaran untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Ingin yg terbaik di butuhkan perjuangan, mau berjuang harus rela berkorban,..
Ucapan terima kasihku kepada semua pihak. Terutama kepada guru-guruku yang telah mendidik, membina dan mengajarkan aku ilmu yang sangat bermanfaat ini. Rasanya tidak bisa dibalas kecuali hanya dengan do,a " semoga ilmu yang sudah di ajarkan, dibalas oleh Allah SWT dengan Pahala yang berlipat ganda. Amiin."
Hak Cipta Dilindungi Oleh Allah SWT
Kamis, 19 Juni 2014
Hargai sesuatu, walau sekecil apapun
Tidak menjamin akan membahagiakan hidup seseorang,, tapi hargailah sesuatu dari seseorang itu, sekecil apapun sesuatu itu, tepatilah komitmen yang telah dijanjikan,,....
Orang yang Sekarang masih ada bersama kita, yang masih setia dengan kita, dia yang sehari-hari membantu kita Karena Allah, demi untuk kita bersama,...hargailah dia, jangan sia-siakan kebahagiaan kita dengannya....
Mungkin suatu saat kita akan merasa kehilangan sekali dengannya, apabila dia telah pergi meninggalkan kita, boleh jadi..saat-saat lebaran akan meninggalkan kita kembali ke kampung halamannya, atau dia kembali ke tanah kelahirnannya meninggalkan kita....
By : Zainal Masri
Minggu, 01 Juni 2014
Indonesia Bangkit Lawan Korupsi-Lomba Pidato kebangsaan
Zainal Masri (Peserta)
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hadirin para pendengar sebangsa setahanah air yang saya cinta,
Hari ini, saya berdiri disini, di bawah langit Indonesia raya, langit
yang senantiasa melindungi kita dari segala bahaya yang datang
mengancam kehidupan kita. Kita semua, hari ini, berdiri diatas tanah
yang telah menumbuhkan benih kehidupan untuk seluruh manusia yang
bermukim diatasnya. Kita dikelilingi lautan yang luas, yang telah sejak
dulu menjadi muara segala kegelisahan bangsa ini. Lalu apa yang salah
dari bangsa ini saudara-saudara sekalian?
Di subuh hari, belum lagi orang kota terbangun dari tidur, pak tani
di kampung telah turun membajak sawahnya. Di sore hari, ketika
orang-orang kota bergegas untuk pulang, para pekebun kita masih terus
mencangkul tanah mereka. Lampu jalanan kota-kota besar sudah menyala,
ketika para buruh kita, masih bekerja ditengah raungan mesin-mesin
pabrik. Tentu kita bukan bangsa pemalas, sekali lagi tentu kita bukan
bangsa pemalas!
Ketika Tsunami datang menerjang Aceh, semua orang lupa pada konflik,
semua orang lupa akan politik, semua orang lupa pada identitas-identitas
sukunya. Semua orang dari penjuru negeri, datang mengulurkan bantuan
semampu mereka. Ketika banjir merendam Jakarta, semua orang bahu-membahu
menolong sesamanya yang terkena musibah. Tentu kita bukan bangsa yang
senang memikir- kan diri sendiri saudara-saudara sekalian!
Hadirin para pendengar sebangsa setahanah air yang saya cinta,
Kita tentu patut bersedih hati. Betapa tidak, ketika reformasi
datang, kita punya harapan yang besar. Harapan tentang datangnya
kesejahteraan, mimpi tentang datangnya keadilan dan cita-cita tentang
terwujudnya kedaulatan hidup.
Namun telah hampir lima belas tahun lamanya yang kita temukan adalah
ritual-ritual demokrasi lima tahunan yang harganya sangat mahal.
Kedaulatan bangsa yang diinjak- injak dengan jalan mencuri ikan, kayu
dan sumber daya alam kita. Yang kita lihat adalah ketidakberdayaan
ekonomi akibat lilitan hutang luar negeri dan resep-resep asing yang
dipaksakan untuk kita gunakan. Yang kita rasakan adalah makin
mengganasnya benalu korupsi yang secara langsung menggerogoti APBN yang
seharusnya untuk kepentingan publik.
Hadirin para pendengar sebangsa setahanah air yang saya cinta,
Tidak berhenti sampai disitu, para elit politik dan birokrasi seakan
menutup mata atas fakta tersebut. Mereka sibuk merayu rakyat dalam
setiap perhelatan Pemilu, namun lalu lupa setelah menduduki kekuasaan.
Baru beberapa tahun berkuasa, mereka lalu sibuk untuk mempersiapkan diri
untuk pemilu berikutnya, demi menjaga kekuasaan tetap dalam genggaman.
Bahkan ketika hokum membatasi kekuasaan mereka, tanpa malu-malu mereka
menyiapkan, isteri, anak, cucu bahkan sanak keluarga mereka untuk
melanggengkan jabatan dan kendali kekuasaannya.
Kita yang dulu disebut sebagai “macan asia,” kini tersudut- sudut
dalam pergaulan internasional. Bangsa-bangsa yang dulu belajar dari
kita, kini telah jauh diatas kita. Bahkan kini kita disejajarkan dengan
Vietnam dan Thailand. Pasti ada yang salah saudara-saudara sekalian.
Korupsi, sekali lagi, korupsi! inilah penyebab utama kemerosotan
bangsa kita. Korupsi di negeri kita, tidak lagi mengingat nilai-nilai
luhur bangsa kita. Korupsi bahkan telah mulai menggerogoti tiang-tiang
luhur budi pekerti bangsa ini. Berita tentang korupsi Al Quran sungguh
membuat hati teriris-iris. Dimana hati, akal, pikiran, nurani dan
mentalitas para koruptor-koruptor itu diletakkan.
Kita dalam keadaan darurat saudara-saudara sekalian. Jika
dibiarkan maka pertumbuhan ekonomi yang sekarang memungkinkan kita
mengambil kendali dunia, hanya akan memperkaya segelintir orang di
republik ini. Kita harus mendengarkan kata Soekarno, kita sedang melawan
bangsa kita sendiri, saudara kita sendiri.
Hadirin para pendengar sebangsa setahanah air yang saya cinta,
Kitalah benteng terakhir pertahanan bangsa ini dari benalu korupsi.
Setiap dari kita yang hadir hari ini, harus mendengarkan seruan ini!
“rapatkan barisan hai kau anak negeri, bangsamu sedang diuji, karena
sebagian dari mereka telah ingkar dari amanat penderitaan rakyat. Jaga
matamu, tajamkan pendengaran dan penciumanmu, rawat hatimu dan keraskan
tekad bajamu. Laporkan sekecil apapun perampokan dan pencurian yang
terjadi di sekitar kita. Ajak saudara sebangsa yang masih bersetia pada
rakyat. Potong benalu-benalu korupsi disekitar kita awasi setiap gerak
gerik mereka, lalu penjarakan mereka karena dosa-dosanya pada bangsa
ini.”
Semoga Tuhan mendengarkan kita semua, yang berdiri hari ini, atas
darah dan tulang yang sama, demi Indonesia yang adil, makmur, sejahtera
dan berdaulat. Tuhan bersama kita, yang bangkit melawan koruspi. (Jeffrie Geovanie)
Sabtu, 17 Mei 2014
CINTA KAMPUNG HALAMAN
Zainal Masri, S.Pd.I
Kenangan kepada tempat kelahiran selalu saja menghiasi
jiwa setiap Insan???
Nabi Muhammad SAW
saat meninggalkan kampung halamannya yang penuh berkah yang di dalamnya beliau
hidup dari kecil hingga dewasa dan tempat pusat memancarnya cahaya dan turunnya
wahyu di Gua Hira dan gunung-gunung di kota Mekkah dan bukit-bukitnya!… Ketika
beliau terpaksa harus berhijrah beliau menoleh ke kota Mekkah dan berkata
kepada tanah leluhurnya, Tanah tumpah darahnya:
والله، إنك لأحَبُّ أرض
الله إلى الله، وأَحَبُّ أرض الله إليَّ.
ولولا أن أهلك أخرجوني
منك ما خرجت
”Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekkah) adalah
bumi yang paling aku cintai karena Allah, dan bumi yang sangat dicintai Allah
untukku. sekiranya penghunimu tidak mengusirku darimu maka aku tidak akan
meninggalkanmu”.
Meskipun Nabi SAW mendapatkan penerimaan yang hangat dari
warga kota Madinah yang telah dianugerahkan cahaya hidayah dan menyinari orang
yang membawa hidayah tersebut, namun kerinduan kepada Mekkah tidak pernah pupus
dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Kerinduan pada tanah kelahiran dan kampung halaman,
bahkan hingga pada sumur-sumur yang berair jernih dan gunung-gunung yang
kokoh.. bahkan hingga pada bebatuan yang bertasbih memuji penciptanya…kerinduan
dan kecintaan yang mendorong Rasulullah saw mengangkat tangannya berdoa kepada
Allah:
اللهم حبِّب إلينا
المدينة كحبِّنا مكة أو أشد.. اللهم وصحِّحها لنا
وبارك لنا في مُدّها وصاعها
“Ya Allah berilah kepada kami kecintaan kepada kota
Madinah sebagaimana kami sangat mencintai kota Mekkah.. Ya Allah berikanlah
kebenaran kepada kami dan berkahilah kami dalam memanjatkan doa dan harap
kepadanya”
Wallahu'alam...
Wallahu'alam...
Langganan:
Postingan (Atom)














